Masjid Agung Kerapan Kebo Pulau Kenawa
By February 16, 2013 0 Comments

Komnas HAM Kaji Penindakan Kelompok Teroris Dompu

Mataram – Komisi Nasional (Komnas) Hak Azasi Manusia (HAM) tengah mengkaji penindakan yang dilakukan Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri, yang dengan mudah menembak mati lima terduga teroris di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB). “Hari ini Komnas HAM audiensi dengan Karo Ops dan Kabid Dokkes, dan mungkin Senin (18/1) ke lokasi kejadian,” kata Kapolda NTB Brigjen Pol Mochamad Iriawan, di Mataram, Kamis.

Sebelum Tim Komnas HAM turun ke NTB guna mengkaji penindakan hukum yang dilakukan Densus 88 Mabes Polri, kelompok mahasiswa di wilayah NTB berkali-kali menggelar unjuk rasa memprotes cara Densus Antiteror itu.

Versi mahasiswa, dari lima terduga teroris yang ditembak mati di Kabupaten Dompu itu, dua diantaranya bukan teroris.

Informasi yang diperoleh mahasiswa, dua korban tewas ditembak mati Densus 88 di Dompu bukan teroris, tetapi warga yang hendak ke pasar untuk berdagang.

Karena itu, mahasiswa menghendaki Komnas HAM mengkaji permasalahan tersebut, karena ada kemungkinan tim Densus Antiteror Polri itu salah sasaran.

Mahasiswa kemudian menilai Tim Densus 88 itu telah melakukan pelanggaran HAM karena menghilangkan nyawa manusia dengan sengaja, tanpa dasar yang kuat.

Mahasiswa pun mendesak Komnas HAM untuk melakukan supervisi atas kinerja Densus 88 Antiteror Mabes Polri itu.

Kelompok mahasiswa itu juga meminta DPR/MPR memanggil Presiden dan Kapolri guna supervisi tindakan polri dalam memberantas pelaku tindak pidana terorisme yang mudah menggunakan cara tembak mati, tanpa mempertimbangkan azas praduga tak bersalah.

Pada 5 Januari 2013, Kapolda NTB Brigjen Pol Mochamad Iriawan mengatakan, lima orang teroris yang masuk daftar pencarian orang (DPO) Poso, Sulawesi Tengah, ditembak mati karena melawan saat hendak ditangkap di Kabupaten Dompu, Pulau Sumbawa, 4-5 Januari 2013. “Karena melawan terpaksa ditembak mati,” kata Iriawan yang didampingi Gubernur NTB TGH M Zainul Majdi, kepada wartawan di Mataram, setelah proses pemberangkatan kelima jenazah yang ditembak mati itu ke Jakarta.

Aksi tembak mati itu dilakukan tim Densus 88 saat penyergapan teroris yang berlangsung di dua lokasi masing di Mangge Nae, Dompu, yang berbatasan dengan wilayah Kabupaten Bima, dan di Kendai 2, Kecamatan Woja, Kabupaten Dompu.

Saat penyergapan itu, dua orang teroris tewas ditembak mati, yakni Roy asal Makassar, dan Bahtiar asal Dompu. Sedangkan barang bukti yang ditemukan berupa masing satu pucuk senjata api jenis Revolver dan FN beserta belasan putir peluru.

Selanjutnya, penyergapan di Kendai, Kecamatan Woja, Kabupaten Dompu, dan tiga orang teroris ditembak mati, seorang lainnya berhasil kabur dari kejaran polisi.

Ketiga teroris yang tewas itu sempat tidak teridentifikasi karena tidak ada petunjuk identitas yang ditemukan. Namun, setelah dibawa ke Jakarta dan diidentifikasi akhirnya diketahui, salah seorangnya merupakan kawanan teroris DPO Poso, yakni Rizal alias Andi Kamayama alias Andi Brekele.

Dua orang lainnya sempat disebut Kapolda NTB sebagai Pais, dan Riswanto, namun Mabes Polri menyatakan kedua orang itu belum jelas identitasnya.

Belakangan mencuat informasi kalau kedua orang itu bukan anggota jaringan teroris, sehingga masalah tersebut diadukan ke Komnas HAM.(ant)

Posted in: Regional

About the Author:

Post a Comment