Masjid Agung Kerapan Kebo Pulau Kenawa
By January 30, 2013 0 Comments

Distribusi Pupuk Bersubsidi Ntb Terkendala Tenaga Buruh

Mataram – Distribusi pupuk bersubsidi di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) belum berjalan lancar karena terkendala minimnya tenaga buruh bongkar muat di Pelabuhan Lembar, Kabupaten Lombok Barat.

“Sudah ada kapal yang membawa 4.000 ton pupuk bersubsidi, masing-masing 3.000 ton untuk pupuk urea, dan 1.000 ton untuk NPK, namun belum dibongkar karena kekurangan buruh di Pelabuhan Lembar,” kata  Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi NTB H Lalu Imam Maliki, di Mataram, Selasa.

Imam mengaku lebih intens berkoordinasi dengan para distributor pupuk bersubsidi yang beroperasi di wilayah NTB, guna menyelesaikan kendala teknis itu.

Para distributor diminta menambah tenaga buruh meskipun dadakan agar distribusi pupuk bersubsidi itu dapat segera direalisasi, mengingat petani terus mengeluhkan kelangkaan pupuk urea dan pupuk bersubsidi lainnya di pasar.

Sejak beberapa pekan terakhir ini, petani di sejumlah daerah di wilayah NTB mengeluhkan kelangkaan pupuk urea dan tinggi harga pupuk itu.

Versi Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi NTB H Abdul Ma’ad, kuota pupuk urea untuk NTB lebih dari cukup, sehingga tidak cukup beralasan jika terjadi kelangkaan dan kenaikan harga secara sepihak.

Justru daya serap petani setiap tahun rata-rata kurang dari kuota yang ada, misalnya sebanyak 122.212 ton atau 85 persen dari kuota pada musim tanam 2011 sebanyak 139.290 ton yang direvisi oleh Kementerian Pertanian dari kuota sebelumnya 150 ribu ton.

Karena itu, kuota pupuk urea pada 2012 dikurangi menjadi 122.700 ton, dan kuota 2013 diperkirakan masih sama dengan kuota 2012.

Ma’ad kemudian menduga kelangkaan dan tingginya harga pupuk Urea itu erat kaitannya dengan persoalan teknis distribusi.

Imam mengakui, kelangkaan pupuk urea di sejumlah daerah di NTB yang berdampak pada tinggi harga jual di pasaran itu, ada kaitannya dengan teknis distribusi yang sempat macet akibat cuaca buruk.

Hanya saja, kelangkaan itu masih berlanjut meskipun sudah ada tiga unit kapal pengangkut pupuk bersubsidi yang merapat ke Pelabuhan Lembar, Lombok Barat, karena cuaca buruk telah berlalu. “Masalah buruh itu yang membuat pusing, tapi kami terus berkoordinasi agar masalah tersebut terselesaikan. Sejak kemarin buruh bongkar muat barang di Pelabuhan Lembar masih sibuk bongkar semen dan barang muatan kapal lainnya,” ujarnya.

Ia berharap, dalam pekan ini distribusi pupuk bersubsidi itu kembali lancar, dan sebelum stok yang tersedia habis, akan datang lagi stok baru sesuai kuota.

Mengenai Harga eceran tertinggi (HET) pupuk urea bersubsidi di tingkat pedagang pengecer resmi yang masih berlaku sebesar Rp1.800 per kilogram, HET pupuk ZA sebesar Rp1.400 perkilogram dan pupuk NPK Rp2.300 perkilogram.

HET pupuk bersubsidi itu sesuai Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 32 Tahun 2010 tentang Penetapan Perubahan Permentan No 50/2009 yang mengatur tentang kebutuhan dan HET pupuk bersubsidi, yang masih berlaku di 2011, 2012 dam 2013.

Penyaluran pupuk urea bersubsidi sejak Januari 2012 menggunakan sistem rencana definitif kebutuhan kelompok (RDKK), meskipun surat keputusan (SK) bupati mengenai kuota kebutuhan pupuk bersubsidi di masing-masing kabupaten/kota belum ada.

Kebijakan itu ditempuh untuk menghindari kelangkaan yang bisa menyebabkan terjadinya gejolak di tengah masyarakat, khususnya para petani.

Penyaluran pupuk urea bersubsidi itu, melibatkan sebanyak 11 distributor dan ribuan pedagang pengecer resmi di seluruh kabupaten/kota se-NTB yang menjadi mitra PT Pupuk Kaltim.

Dengan demikian, para petani yang terdaftar dalam RDKK bisa membeli pupuk urea bersubsidi sesuai dengan HET, dan setiap petani sudah dijatahkan sesuai luas lahan yang tercatat dalam RDKK. (ant)

Posted in: Regional

About the Author:

Post a Comment