Masjid Agung Kerapan Kebo Pulau Kenawa
By October 2, 2011 0 Comments

PLTU Jeranjang Belum Bisa Diresmikan Presiden

Mataram – Manajemen PT PLN memastikan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Batubara yang tengah dibangun di Jeranjang, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, belum bisa diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

“Belum bisa, dan kami pun sudah laporkan permasalahan ini kepada Gubernur,” kata Manager Unit Pelaksana Konstruksi Pembangkit dan Jaringan Nusa Tenggara II PT PLN M Dahlan Djamaludin, di Mataram, Jumat.

Dahlan mengatakan, direncanakan peresmian PLTU Batubara di Jeranjang hendak dipadukan dengan peresmian Bandara Internasional Lombok (BIL) oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pertengahan atau akhir Oktober 2011.

Rencana itu bukan ide pihak PLN, karena memang pembangunan PLTU Batubara baru akan rampung paling cepat akhir Desember 2011.

Ia menduga hal itu merupakan keinginan pihak tertentu yang dikaitkan dengan rencana kunjungan Presiden ke wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk sejumlah acara besar.

“Setelah kami jelaskan permasalahannya, Gubernur NTB dapat memakluminya dan menyarankan untuk tetap melaksanakan tugas sesuai tahapan, karena menyangkut keselamatan orang banyak dan keandalan sistem kelistrikan,” ujarnya.

Menurut Dahlan, PLTU Batubara di Jeranjang, Lombok Barat, itu baru boleh diresmikan pemanfaatannya jika telah memasuki tahapan komersial operasi atau dikenal dengan sebutan Commercial Operating Date (COD).

Saat ini, tahapan pembangunan PLTU Batubara itu baru memasuki tahapan “Curing” (pelembaban dan perendaman) berupa pengoperasian batu tahan api (refraction) dalam “broiler” yang membutuhkan waktu paling sedikit delapan hari.

“Tahapan pemanasan itu baru akan rampung 3 Oktober mendatang, dan jika telah sesuai baru memasuki tahap berikutnya yang disebut ‘Stim Blow” atau kegiatan seperti memasak air yang waktunya normalnya 14 hari sampai derajat pemanasan dikehendaki yakni 500 derajat dengan tekanan 90 bar,” ujarnya.

Tahapan selanjutnya, kata Dahlan, yakni sinkroninasi sistem namun harus diawali dengan persiapan “Silencer” yang membutuhkan waktu lima hari, kemudian masuk tahapan “loading test” yang juga butuh waktu lima hari.

Selanjutnya tahapan uji keandalan (reliability run test) sistem selama 30 hari tanpa mesin mati, guna mengukur kapasitas energi listrik yang dihasilkan yakni 25 Mega Watt (MW) sesuai perencanaan. “Setelah itu, baru masuk tahapan komersial operasi atau COD, dan setelah itu boleh ada peresmian pemanfaatan PLTU Batubara berkapasitas 1 x 25 MW itu. Jika berjalan sesuai rencana malam akhir Desember baru boleh ada peresmian,” ujarnya.

Dengan demikian, rencana peresmian BIL belum bisa dipadukan dengan peresmian PLTU Batubara berkapasitas 1 x 25 MW yang baru akan rampung akhir Desember mendatang.

Apalagi PLTU Batubara berkapasitas 2 x 25 MW yang juga tengah dibangun di Jeranjang, baru akan rampung paling cepat pertengahan 2012.

Bandara internasional yang akan diresmikan Presiden itu memiliki areal seluas 551 hektare, dan landasan pacu 2.750 meter x 40 meter persegi, sehingga mampu didarati pesawat Air Bus 330 atau Boeing 767 dan dapat menampung 10 unit pesawat.

Berbeda dengan Bandara Selaparang Mataram yang luas arealnya hanya 28.881 meter persegi. Terminal penumpang BIL seluas 21 ribu meter persegi, atau empat kali lipat lebih luas terminal Bandara Selaparang Mataram hanya 4.796 meter persegi.

Kapasitas tampung terminal penumpang BIL mencapai tiga juta setahun, dengan luas areal parkir 17.500 meter persegi. Berbeda dengan Bandara Selaparang Mataram  hanya 7.334 meter persegi.

Nilai mega proyek BIL mencapai Rp945,8 miliar, terdiri atas Rp679 miliar tanggungan Angkasa Pura I, dana sebesar Rp110 miliar tanggungan Pemprov NTB dan Rp40 miliar dibebankan pada Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah.

Meskipun baru akan diresmikan pertengahan atau akhir Oktober 2011, manajemen PT Angkasa Pura I akan mengoperasikan bandara internasional itu mulai 1 Oktober nanti.

Selain peresmian BIL, Presiden juga mengagendakan pertemuan khusus dengan Perdana Manteri Malaysia, di Hotel Novotel, di kawasan wisata Mandalika, Kabupaten Lombok Tengah.

Bahkan, dilaporkan Presiden akan meresmikan tanda dimulainya penataan kawasan wisata terpadu Mandalika, yang antara lain digarap oleh manajemen Novotel.(ant)

Posted in: Regional

About the Author:

Post a Comment