Masjid Agung Kerapan Kebo Pulau Kenawa
By June 2, 2016 0 Comments

Impian Tunggal Melepas Predikat Daerah Tertinggal

Oleh: Aan Widhi Atma,M.M. (Pegawai pada Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan Kabupaten Sumbawa)

Agak terdengar sedikit menggelitik telinga, ketika Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) yang jumlah penduduknya hanya 132.219 jiwa dengan luas wilayah 184.902 Ha (www.sumbawabaratkab.go.id) masih belum beranjak dari predikat “Daerah Tertinggal” sejak awal terbentuk di tahun 2003 (www.kemendesa.go.id). Sementara jauh sebelum itu, tepatnya tahun 1997 di daerah tersebut berdiri sebuah Perusahaan Tambang Raksasa Multinasional sekelas PT. Newmont Nusa Tenggara (PT NNT). Dalam pikiran masyarakat awam, kemanakah hasil tambang yang telah dikeruk selama ini? Apakah uang yang melimpah ruah hasil dari Newmont masih belum cukup? Masih diragukankah data-data membaiknya indikator pendidikan, kesehatan, sosial budaya, lingkungan hasil evaluasi program Corporate Social Responsibility (CSR) untuk mendongkrak status “tertinggal” di atas?

Dan yang lebih menyedihkan lagi, berdasarkan data BPS NTB yang digunakan Pemda KSB dan Sub Divre Bulog Sumbawa dalam menyalurkan Raskin (Program Subsidi Beras bagi Masyarakat Berpendapatan Rendah) tahun 2015 yang lalu menunjukkan bahwa warga yang berada di dekat lokasi pusat pengerukan sumber daya alam di Kecamatan Sekongkang, justru menerima jatah Raskin cukup besar (www.bisnisntb.com).  Jumlah orang miskin di Kecamatan Sekongkang sebagai rumah tangga sasaran (RTS) penerima manfaat Raskin sebanyak 766 RTS yang tersebar di 8 desa. Diantaranya, UPT Tongo sebanyak 125 KK, Desa Kemuning 29 KK, Desa Talonang Baru 162 KK, Desa Tatar 114 KK, Desa Ai Kangkung147 KK, Desa Tongo 63 KK, Desa Sekongkang Atas sebanyak 61 KK dan Desa Sekongkang Bawah 65 KK.

Namun demikian, KSB masih punya waktu untuk mendongkrak predikat tersebut, dengan syarat memperbaiki kriteria dasar dan indikator utama daerah tertinggal yang salah satunya adalah pendidikan dan kesehatan. Apalagi dengan terpilihnya Bupati KSB, Dr. Ir. H. W Musyafirin, M.M. dan Fud Syaifudin, ST untuk periode 2016-2021 diharapkan mampu membawa Bumi Pariri Lema Bariri ini menjadi lebih baik. Targetnya tidak usah muluk-muluk, 5 (lima) tahun kepemimpinan Bapak Bupati, KSB harus keluar dari zona daerah tertinggal. Cukup itu saja!

Mengkonkretkan Impian

Ada pepatah kuno yang mengatakan “The best way to make your dreams come true is to wake up”. Cara terbaik untuk mewujudkan impian anda adalah dengan menyadarinya. Sadar bahwa anda memiliki impian yang harus diwujudkan akan membawa anda pada keberanian untuk berbuat. Kita harus menyadari bahwa tidak bisa selamanya Pendapatan Asli Daerah (PAD) KSB bergantung pada sektor pertambangan, karena sifatnya yang tak bisa diperbarui. Kita juga harus menyadari bahwa kehadiran Newmont yang hanya sebentar di Bumi KSB harus dimanfaatkan seoptimal mungkin agar menjadi peluang keberlanjutan kesejahteraan masyarakat.

Menyambut ide Dr. Muhammad Sulhan, S.I.P., M .Si., Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi Fisipol UGM, yang juga alumni kegiatan Sustainable Newmont Bootcamp  yang mengatakan bahwa harus ada mimpi bersama antara Pemerintah Daerah, Pihak Swasta (PT NNT) dan masyarakat. Justru yang terjadi saat ini setiap pihak punya mimpi yang berbeda dan hampir tanpa arah. Oleh karena itu penulis pun mencoba menawarkan bentuk konkret dari impian bersama tersebut adalah upaya beranjak dari predikat daerah tertinggal, karena itulah salah satu tolok ukur kesejahteraan suatu daerah.

Mengapa tidak, jika dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) untuk periode selama 5 (lima) tahun mendatang Pemerintah KSB menargetkan agar terlepas dari jerat daerah tertinggal. Seluruh tujuan , sasaran , strategi dan kebijakan pembangunan diarahkan untuk tercapainya target tersebut. Dalam tulisan kali ini penulis mencoba menguraikan dua indikator yang menjadi peluang dalam meraih impian tersebut yakni pendidikan dan kesehatan.

Ikhtiar Mencetak Generasi Emas

Dr. Zulkifli Muhadli, S.H., M.M. Bupati KSB periode 2005-2015 pernah dengan lantang mengatakan “Tidak boleh ada kata menyerah untuk memindahkan emas di Batu Hijau ke dalam otak generasi emas KSB”. Beliau sangat menyadari bahwa dengan peningkatan pendidikanlah nasib seseorang itu akan berubah dan kualitas hidup masyarakat menjadi lebih baik.

Ikhtiar mencetak generasi emas ini ditunjukkan oleh PT NNT dengan membenahi infrastruktur pendidikan, menyalurkan beasiswa, bantuan pendidikan, pelatihan dan program guru magang. Tercatat sejak tahun 1998 s.d. 2014 penerima beasiswa berjumlah 14.353 siswa/mahasiswa. Sebagian besar berasal dari Kabupaten Sumbawa Barat dan Kabupaten Sumbawa. Total dana beasiswa yang telah direalisasi Rp22,5 milyar lebih. Beasiswa ini diberikan kepada siswa/mahasiswa berprestasi asal NTB. Jenis beasiswa, sebagai berikut Bulaeng (beasiswa tertinggi bagi mahasiswa S1, S2 dan S3 dengan pembiayaan penuh) Emas (beasiswa bagi mahasiswa S1 dengan pembiayaan SPP dan biaya hidup), Platinum (beasiswa 1 tahun S2 dan S3), Perak (beasiswa 1 tahun untuk siswa SMP/SMA sederajat dan mahasiswa S1) dan Bantuan Peningkatan Prestasi bagi mahasiswa S1 asal KSB.

Keberlanjutan Menuju Generasi Sehat

Setidaknya, ada dua hal yang bisa menjadi rujukan menilai kinerja program pengembangan masyarakat bidang kesehatan PT NNT.

Pertama, sarana infrastruktur penunjang kesehatan masyarakat relatif tersedia yang layak dan baik. Pembangunan infrastruktur kesehatan meliputi rehabilitasi puskesmas, polindes, pustu, posyandu dan alat-alat kesehatan. Ada sarana kesehatan yang direhab total, ada pula yang dilengkapi bagian yang kurang. Hal ini sangat memberikan kontribusi yang siginifikan terhadap peningkatan derajat kesehatan masyarakat sekitar tambang. Dalam pandangan penulis ada satu hal yang patut disyukuri, sejauh ini kualitas bangunan yang dikerjakan kontraktor yang ditunjuk PT NNT, terjamin hasilnya. Pihak PT NNT sendiri memiliki tim khusus di bawah seksi pengembangan masyarakat yang bertugas mengawasi semua pembangunan infrastruktur yang dikerjakan dari dana bantuan perusahaan. Tim ini mengontrol dengan ketat setiap proses pembangunan fisik. Sehingga bisa dipastikan antara dana yang dikeluarkan perusahaan dengan hasil bangunan yang didirikan akan sesuai.

Kedua, apresiasi publik yang besar dalam bentuk penghargaan resmi dari pemerintah RI dan masyarakat sekitar tambang sendiri. Sejumlah penghargaan menjadi buktinya. Sebutkan saja misalnya pada 2003 PT NNT mendapatkan penghargaan Pandudaya Masyarakat (PADMA) dari pemerintah Republik Indonesia atas penerapan pengelolaan pengembangan masyarakat yang partisipatif. Lalu pada 2007 dan 2009 Kabupaten Sumbawa Barat menjadi kabupaten sehat di tingkat nasional.

Pendidikan dan kesehatan adalah pondasi menuju perubahan yang lebih baik. Spirit ini  harus terumuskan dalam kehendak bersama agar melahirkan genarasi emas yang sehat dan cerdas serta produktif. Tentu tidaklah tepat jika dikatakan peningkatan derajat pendidikan dan kesehatan masyarakat di sekitar tambang itu terjadi semata-mata karena adanya program pengembangan masyarakat PT NNT. Tetapi juga rasanya tak layak diingkari kalau kontribusi PT NNT berdampak positif terhadap kesejahteraan masyarakat Kabupaten Sumbawa Barat.

Oleh karena itu tekad saja belum cukup untuk menyehatkan dan mencerdaskan masyarakat, diperlukan impian tunggal agar segera keluar dari jeratan predikat daerah tertinggal! (***)

Posted in: Opini

About the Author:

Post a Comment