Masjid Agung Kerapan Kebo Pulau Kenawa
By May 19, 2016 0 Comments

Filosofi Sejarah Masyarakat Sumbawa Barat Sebagai Pengokoh Prinsip Ikhlas, Jujur, Sungguh – Sungguh

Oleh : Roy Marhandara

 

Prinsip Ikhlas, Jujur, Sungguh-sungguh oleh Pemerintah Sumbawa Barat hari ini dijadikan sebagai landasan semangat dalam mewujudkan Program Daerah Pemberdayaan Gotong Royong (PDPGR). 3 (tiga) kata tersebut memiliki makna yang sangat mulia dan akan memuliakan bagi siapa saja yang dapat mengerti, merasakan/menjiwai, dan mewujudkannya dalam bentuk perbuatan. Kita tidak boleh hanya sebatas mengetahui dan menyebutkannya, karena nantinya akan memposisikan prinsip ikhlas, jujur, sungguh-sungguh hanya sebatas jargon saja, dan tidak akan memenuhi harapan yang ideal. Maka jangan heran jika suatu saat prinsip yang mulia tersebut hanya berlaku sesaat, berlalu begitu saja dan hilang seiring dengan perjalanan waktu.

Mencoba menghimpun beberapa pengertian dari 3 (tiga) kata tersebut, kami menemukan pemaknaan kata dan penjelasan singkat yang memunculkan pertanyaan, dapatkah kita mewujudkan prinsip Ikhlas, jujur, sungguh-sungguh?, dan kapankah prinsip Ikhlas, jujur, sungguh-sungguh dapat terwujud?.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, ikh·las berati bersih hati, tulus hati. Meng·ikh·las·kan berarti memberikan atau menyerahkan dengan tulus hati. Jujur, berarti lurus hati; tidak berbohong (misal dengan berkata apa adanya). Sedangkan “kejujuran” berarti sifat (keadaan) jujur. Sungguh-sungguh berarti tidak main-main; dengan segenap hati; dengan tekun. Dari pengertian tersebut maka kita sudah dapat menggambarkan dalam alam pikir kita bahwa nilai-nilai seperti apa yang akan kita wujudkan dalam sikap (attitudes), perilaku (behaviors), dan motivasi (motivations) didalam kehidupan kita sehari-hari.

Untuk memantapkan terjemahan terhadap prinsip Ikhlas, jujur, sungguh-sungguh, terdapat pendapat beberapa ulama dalam mendefinisikan 3 (tiga) kata tersebut.  Ikhlas, ada yang berpendapat, sebagai sebuah perbuatan memurnikan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ada pula yang berpendapat, ikhlas adalah mengesakan Allah dalam beribadah kepadaNya. Ada pula yang berpendapat, ikhlas adalah pembersihan dari pamrih kepada makhluk.  Al ‘Izz bin Abdis Salam berkata : “Ikhlas ialah, seorang mukallaf melaksanakan ketaatan semata-mata karena Allah. Dia tidak berharap pengagungan dan penghormatan manusia, dan tidak pula berharap manfaat dan menolak bahaya”. Al Harawi mengatakan : “Ikhlas ialah, membersihkan amal dari setiap noda.”.

Sedangkan arti dan makna kejujuran dalam Islam, dan jika dikutip dalam bahasa Arab, kata jujur sama maknanya dengan “ash-shidqu” atau “shiddiq” yang berarti nyata, benar, atau berkata benar. Lawan kata ini adalah dusta, atau dalam bahasa Arab ”al-kadzibu”. Secara istilah, jujur atau ash-shidqu bermakna: (1) kesesuaian antara ucapan dan perbuatan; (2) kesesuaian antara informasi dan kenyataan; (3) ketegasan dan kemantapan hati;

Sungguh-sungguh yang juga sering disamakan dengan ikhtiyar, dapat diartikan sebagai usaha/upaya yang dilakukan untuk mendapatkan kebahagiaan hidup, baik di dunia atau di akhirat. Perintah untuk Berikhtiar Dalil-dalil yang mewajibkan kita berikhtiar, antara lain : Surat al-Jumu’ah ayat 10 yang artinya :”Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kalian di bumi, carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kalian beruntung.

Melihat arti dan penjabaran singkat dari kata Ikhlas, jujur, sungguh-sungguh, maka kita akan bertanya, dapatkah prinsip Ikhlas, Jujur, Sungguh-sungguh dapat kita terapkan dengan benar?. Semua itu akan terwujud dengan upaya nyata, tindakan tegas, komitmen dan sikap konsisten para pemimpin dengan kerja keras secara bersama-sama.

Dalam catatan sejarah, setiap kepemimpinan memiliki visi yang berbeda, tetapi pada puncaknya nanti akan dipertemukan oleh tujuan yang satu yaitu masyarakat, adil, makmur dan sejahtera. Catatan perjalanan masing-masing fase kepemimpinan tentu memiliki rekam jejak yang meninggalkan pesan dan pelajaran untuk kita, agar dari masa ke masa harus ada perbaikan dan peningkatan. Maka soekarno telah mengingatkan kepada kita dalam pidatonya Jas Merah, agar kita tidak boleh lupa dengan sejarah. Karena melalui sejarah kita dapat belajar untuk lebih baik pada hari ini, dan mempersiapkan kebaikan yang lebih baik lagi dimasa yang akan datang.

Filosofi sejarah yang perlu kita ingat dan dapat kita jadikan sebagai pengokoh dalam mewujudkan prinsip ikhlas, jujur, sungguh-sungguh adalah:

Adat barenti ko syara, syara barenti ko kitabullah. Adat barenti ko syara, syara barenti ko kitabullah adalah filosofi yang sejak lama/lampau telah diterapkan dalam tatanan pemerintahan, adat, tradisi, serta gerak hidup Tau Samawa. Pegangan hidup masyarakat Sumbawa tersebut mulai menancapkan akar ideologinya, dari sejak tahun awal pada abad ke-16, saat Sunan Prapen yang merupakan keturunan Sunan Giri dari Jawa datang untuk menyebarkan Islam pada kerajaan-kerajaan Hindu di Sumbawa, dan terakhir penaklukan Karaeng Moroangang dari Kerajaan Gowa tahun 1618 atas Kerajaan Dewa Maja Paruwa (Utan) sebagai kerajaan terakhir yang bersedia masuk Islam sehingga menghasilkan sumpah: “Adat dan rapang Samawa (contoh-contoh kebaikan) tidak akan diganggu gugat sepanjang raja dan rakyatnya menjalankan syariat Islam” (lalu mantja 1984). Adat barenti ko syara, syara barenti ko kitabullah sebagai sebuah nilai yang relevan hingga hari untuk kita terapkan, kita jaga hubungan yang baik dalam koridor habblumminallah dan hablumminannas, dan mewariskan kebaikan-kebaikan di masa yang akan datang.

Budaya basiru. Basiru sebagai sebuah tradisi masyarakat dalam bentuk hubungan social yang diwujudkan dalam kegiatan kerja sama dan tolong menolong antara satu masyarakat dengan masyarakat lainnya. Basiru merupakan system social yang berlaku didalam masyarakat Sumbawa Barat, yang terlaksana atas dasar rasa persaudaraan dan rasa kekeluargaan. Mengangkat kembali nilai basiru pada hari ini tentu harus menyesuaikan dengan perkembangan zaman dengan tidak meninggalkan substansi makna dari budaya basiru tersebut.

Nilai kepahlawanan. Nilai juang kepahlawanan penting untuk kita bangun, sebagai motivasi dan sebagai cerminan hidup kita hari ini dalam memaknai perjuangan dalam pengabdian kita membangun Kabupaten Sumbawa Barat. Tau Samawa Anorawi (KSB) memiliki seorang pahlawan yang sangat dikenal yang memiliki semangat juang tinggi dalam melawan dan mengusir penjajah dari bumi Kamutar Telu. Dia adalah Undru,  yang sangat peduli dengan nasib rakyatnya, rela mengorbankan dirinya dan keluarganya demi mempertahankan kedaulatan negaranya dari tangan penjajah. Nilai kepahlawanan ini menjadi rujukan penting dalam memngokohkan semangat Ikhlas, Jujur, Sungguh-sungguh.

Kamutar Telu. Filosofi kemutar telu adalah konsep pemersatu semangat. Wilayah KSB sekarang termasuk dalam ”Kamutar Telu” yaitu Kamutar Taliwang, Kamutar Jereweh, dan Kamutar Seran. Nilai Tata Pemerintahan ini mencermintah ada persatuan dan kesatuan dalam perbedaan. Artinya, dalam kondisi apa pun kita harus tetap sadar bahwa kita adalah satu kesatuan, berusaha menyisihkan perbedaan, mengedepankan persamaan. Karena hanya dengan kebersamaanlah kita dapat mewujudkan harapan dan cita-cita.

Pembangunan Berbasis RT. Sebagai sebuah konsep yang mempelopori bangkitnya partisipasi masyarakat dalam pembangunan, Program Pembangunan Berbasis RT (PBRT) adalah salah satu gebrakan baru dalam konstalasi system Pemerintah di Republic ini. Konsep pembangunan yang meletakkan wilayah (locus) pembangunan di tingkat lingkungan sebagai basis utama pembangunan tersebut, menempatkan masyarakat RT yang merupakan unit komunitas terkecil (grass root) sebagai basis, sekaligus pelaku utama pembangunan dalam mencapai kesejahteraan sosial masyarakat. Melalui kajian yang mendalam, Disertasi KH Zulkifli Muhadli (Bupati Sumbawa Barat Pertama) dalam mengambil gelar Doktornya di Universitas Merdeka Malang, telah mendapatkan predikat memuaskan (cumlaude), dan telah diapresiasi lewat Penghargaan GLG dari GTZ, dan MDG’S dari Yayasan Inovasi Pembangunan Daerah (YIPD). Konsep ini kemudian dijadikan sebagai model dengan nama KSB’S model untuk kemudian dapat diterapkan oleh daerah lain dimana saja.

Peradaban Fitrah. Peradaban fitrah adalah cita-cita luhur dari pendiri daerah ini. Implementasi dari cita-cita tersebut, telah menjadi bagian tak terpisahkan dalam perjalanan 10 (sepuluh) tahun perjalanan Kabupaten Sumbawa Barat. Walaupun belum sepenuhnya dapat diwujudkan dalam dinamika kehidupan masyarakat Kabupaten Sumbawa Barat, harapan dan cita-cita tersebut akan tetap hidup dalam gelombang zaman. Komplek Kemutar Telu Center (KTC) sebagai sebuah warisan intelektual yang menyimpan makna yang harus dapat diterjemahkan dan diwujudkan oleh generasi mendatang. Merumuskan dan mencanangkan Tiga Prinsip Dasar Kehidupan masyarakat KSB,  ”Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh” (Keselamatan, Rahmat Allah, dan Barokah-Nya). Karena itu nilai-nilai ”Peradaban Fitrah”, menjadi sangat penting untuk kita jadikan sebagai bagian dari tujuan dari cita-cita pemimpin dimasa kini dan masa yang akan datang.

Dari beberapa nilai sejarah yang telah menjadi pegangan hidup bersama masyarakat Sumbawa Barat tersebut, adalah sebagaian kecil dari nilai-nilai filosopi yang dapat kita jadikan penuntun dalam menjalankan kehidupan. Harapan kita hari ini, semoga prinsip Ikhlas, jujur, sungguh-sungguh dapat menjadi nilai yang mengakar dalam diri jiwa masyarakat Sumbawa Barat. Ikhlas yang sebenarnya, Jujur yang sebenarnya, dan Sungguh-sungguh yang sebenarnya.(***)

Posted in: Opini

About the Author:

Post a Comment