Masjid Agung Kerapan Kebo Pulau Kenawa
By March 11, 2015 0 Comments

PELUANG USAHA BUDIDAYA UBI JALAR

Achmad Budillah, SP. M.Si

Ubin jalar merupakan tanaman yang termasuk jenis tanaman penutup tanah yang berumur pendek, biasaya dibudidayakan secara tradisional (tanpa pemupukan).   Penanaman Ubi jalarpun tidak tergantung musim tanam tapi lebih tergantung kepada kebutuhan petani dan keadaan air dari suatu hamparan. Hanya saja penanaman ubi kayu masih dilakukan secara teradisional dan tidak dilakukan tindakan budidaya.

Ubi jalar sekarang merupakan komoditi yang tidak bisa  disepelekan karena nilai jualnya cukup tinggi. Untuk 1 kg ubi jalar harga ditingkat petani Rp. 3000 – 4000/kg, sedangkan dipasar berkisar antara Rp. 8000 – 10.000. sementara hasil per ha tanaman ubi jalar yang dibudidayakan secara tradisional berkisar antara 0.30 – 0,5 kg/lubang tanam sehingga didapat hasil  15 – 20 ton/ha.

Untuk mendapatkan hasil yang berkualitas dan hasil produksi yang maximal maka sangat perlu proses budidaya tanaman diterapkan dalam budidaya tanaman ubi jalar. Pemeliharaan/perawatan tanaman berupa  : Pembuatan bedengan, mengunakan jarak tanam, penggunakan bibit unggul, penyulaman,  penyiangan, pengairan, pemupukan, pemangkasan daun dan pengendalian hama penyakit merupakan sikap yang harus dilakukan oleh petani ubi jalar.

  1. Pembuatan guludan/Bedengan

Ukuran guludan disesuaikan dengan keadaan tanah. Pada tanah yang ringan (pasir mengandung liat) ukuran guludan adalah lebar bawah ± 80 cm, tinggi 25-30 cm, dan jarak antar guludan 70 cm. Pada tanah pasir ukuran guludan adalah  lebar bawah 90-100 cm, tinggi 20-25 cm, dan jarak antar guludan 70 cm. Arah guludan sebaiknya memanjang utara-selatan, dan ukuran panjang guludan disesuaikan dengan keadaan lahan.

2. Jaraktanam.

Jarak tanam yang disarankan untuk budidaya ubi jalar adalah adalah 25-30 cm dalam baris dan 70 cm antar baris (25 X 70 cm). tujuan pengaturan jarak tanam adalah untuk mendapatkan umbi yang lebih seragam.  Jarak tanam sangat berhubungan dengan ketersediaan makanan bagi tanaman.

3. Penggunaan bibit unggul

Varietas yang digolongkan sebagai varietas unggul harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

a) Berdaya hasil tinggi, di atas 30 ton/hektar.

b) Berumur pendek (genjah) antara 3-4 bulan.

c) Rasa ubi enak dan manis.

d) Tahan terhadap hama penggerek ubi (Cylas sp.)dan penyakit kudis oleh cendawan Elsinoe sp.

e) Kadar karotin tinggi di atas 10 mg/100 gram.

f) Keadaan serat ubi relatif rendah.

Varietas unggul ubi jalar yang dianjurkan adalah  varietas prambanan, borobudur, mendut, dan kalasan. Deskripsi masing-masing varietas unggul ubi jalar adalah sebagai berikut:

 

a) Prambanan

1. Diperoleh dari hasil persilangan antara varietas daya x centenial II.

2. Potensi hasil antara 25-35 ton per hektar.

3. Umur panen 135 hari setelah tanam.

4. Kulit dan daging ubi berwarna jingga.

5. Rasa ubi enak dan manis.

6. Varietas tahan terhadap penyakit kudis atau scab.

b) Borobudur

1. Varietas ini merupakan hasil persilangan antara varietas daya x philippina.

2. Potensi hasil antara 25-35 ton per ha.

3. Kulit dan daging ubi berwarna jingga.

4. Umur panen 120 hari setelah tanam.

5. Ubi berasa manis.

6. Varietas tahan terhadap penyakit kudis atau scab.

 

4. Penyulaman.

Penyulaman sangat perlu dilakukan karena sikap ini akan berhubungan dengan hasil panen. Penyulaman dilakukan selama tiga minggu setelah tanam, terutama bibit yang mati atau tumbuh secara abnormal. Bibit yang mati harus segera disulam. Cara menyulam adalah dengan mencabut bibit yang mati, kemudian diganti dengan bibit yang baru, dengan menanam sepertiga bagian pangkal setek ditimbun tanah. Penyulaman sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari, pada saat sinar matahari tidak terlalu terik dan suhu udara tidak terlalu panas. Bibit (setek) untuk penyulaman sebelumnya dipersiapkan atau ditanam ditempat yang teduh.

2) Penyiangan

Pada sistem tanam tanpa mulsa jerami, lahan penanaman ubi jalar biasanya mudah ditumbuhi rumput liar (gulma). Gulma merupakan pesaing tanaman ubi jalar, terutama dalam pemenuhan kebutuhan akan air, unsur hara, dan sinar matahaari. Oleh karena itu, gulma harus segera disiangi. Bersama-sama kegiatan penyiangan dilakukan pembumbunan, yaitu menggemburkan tanah guludan, kemudian ditimbunkan pada guludan tersebut.

3) Pembubunan

Penyiangan dan pembubunan tanah biasanya dilakukan pada umur 1 bulan setelah tanam, kemudian diulang saat tanaman berumur 2 bulan. Tata cara penyiangan dan pembumbunan meliputi tahap-tahap sebagai berikut:

a) Bersihkan rumput liar (gulma) dengan kored atau cangkul secara hati-hati agar tidak merusak akar tanaman ubi jalar.

b) Gemburkan tanah disekitar guludan dengan cara memotong lereng guludan, kemudian tanahnya diturunkan ke dalam saluran antar guludan

c) Timbunkan kembali tanah ke guludan semula, kemudian lakukan pengairan hingga tanah cukup basah.

 

4) Pemupukan

Pemupukan bertujuan menggantikan unsur hara yang terangkut saat panen, menambah kesuburan tanah, dan menyediakan unsur hara bagi tanaman. Dosis pupuk yang dianjurkan secara umum adalah 100-200 kg urea/ha ditambah 50 kg TSP/ha ditambah  100 kg KCl/ha. Pemupukan dapat dilakukan dengan sistem larikan atau  tugal. Pemupukan dengan sistem larikan mula-mula buat larikan kecil di sepanjang guludan sejauh 7-10 cm dari batang tanaman, sedalam 5-7 cm, kemudian sebarkan pupuk secara merata ke dalam larikan sambil ditimbun dengan tanah.

 

5) Pengairan dan Penyiraman

Meskipun tanaman ubi jalar tahan terhadap kekeringan, fase awal pertumbuhan memerlukan ketersediaan air tanah yang memadai. Seusai tanam, tanah atau guludan tempat pertanaman ubi jalar harus diairi, selama 15-30 menit hingga tanah cukup basah, ingat. Pengairan jangan sampai tergenang lebih dari 2 X 24 jam. Pengairan berikutnya masih diperlukan secara kontinu hingga tanaman ubi jalar berumur 1-2 bulan. Pada periode pembentukan dan perkembangan ubi, yaitu umur 2-3 minggu sebelum panen, pengairan dikurangi atau dihentikan. Waktu pengairan yang paling baik adalah pada pagi atau sore hari. Di daerah  yang sumber airnya memadai, pengairan dapat dilakukan kontinu seminggu sekali. Hal Yang penting diperhatikan dalam kegiatan pengairan adalah menghindari agar tanah tidak terlalu becek (air menggenang).

 

6) Hama Dan Penyakit

1. Hama

a) Penggerek Batang Ubi Jalar

Stadium hama yang merusak tanaman ubi jalar adalah larva (ulat). Cirinya adalah membuat lubang kecil memanjang (korek) pada batang hingga ke bagian ubi. Di dalam lubang tersebut dapat ditemukan larva (ulat). Gejala: terjadi pembengkakan batang, beberapa bagian batang mudah patah, daun-daun menjadi layu, dan akhirnya cabang-cabang tanaman akan mati. Pengendalian:

(1) rotasi tanaman untuk memutus daur atau siklus hama;

(3) pemotongan dan pemusnahan bagian tanaman yang terserang berat;

(4) penyemprotan insektisidaseperti Curacron 500 EC atau Matador 25.

2. Penyakit

a) Kudis atau Scab

Penyebab: cendawan Elsinoe batatas.

Gejala:  adanya benjolan pada tangkai sereta urat daun, dan daun-daun berkerut seperti kerupuk.

Pengendalian:

(1) pergiliran/rotasi tanaman untuk memutus siklus hidup penyakit;

(2) Pengunaan varietas tahan penyakit kudis, seperti daya dan gedang;

b) Layu fusarium

Penyebab: jamur Fusarium oxysporum f. batatas.

Gejala: tanaman tampak lemas,urat daun menguning, layu, dan akhirnya mati.. Pengendalian:

(1) penggunaan bibit yang sehat (bebas penyakit);

(2) Rotasi tanaman yang serasi dengan tanaman yang bukan famili;

7. PANEN

Ciri dan Umur Panen tanaman ubi jalar dapat dipanen bila fisik ubi jalar matang, antara lain bila kandungan tepungnya sudah maksimum, umumnya berumur 3 sampai 3,5 bulan, sedangkan

 

8. Cara Panen

Tata cara panen ubi jalar melalui tahapan sebagai berikut:

a) Tentukan pertanaman ubi jalar yang telah siap dipanen.

b) Potong  (pangkas)  batang  ubi  jalar  dengan  menggunakan  parang  atau  sabit, kemudian batang-batangnya disingkirkan ke luar petakan sambil dikumpulkan.

C. Galilah guludan dengan cangkul hingga terkuak ubi-ubinya.

d) Ambil dan kumpulkan ubi jalar di suatu tempat pengumpulan hasil.

e) Bersihkan ubi dari tanah atau kotoran dan akar yang masih menempel.

f) Lakukan seleksi dan sortasi ubi berdasarkan ukuran besar dan kecil ubi secara terpisah dan warna kulit ubi yang seragam.

g) Masukkan ke dalam wadah atau karung goni, lalu angkut ke tempat penampungan. (***)

penulis : Penyuluh Pertanian Kabupaten Sumbawa Barat

Posted in: Opini

About the Author:

Post a Comment